Sejarah Orang Sunda

Sejarah Sunda
Written by New KAsep

Kata Sunda artinya Bagus/ Baik/ Putih/ Bersih/ Cemerlang, segala sesuatu yang mengandung unsur kebaikan, orang Sunda diyakini memiliki etos/ watak/ karakter Kasundaan sebagai jalan menuju keutamaan hidup. Watak / karakter Sunda yang dimaksud adalah cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), singer (mawas diri), dan pinter (pandai/ cerdas) yang sudah ada sejak jaman Salaka Nagara tahun 150 sampai ke Sumedang Larang Abad ke- 17, telah membawa kemakmuran dan kesejahteraan lebih dari 1000 tahun.

Sunda merupakan kebudayaan masyarakat yang tinggal di wilayah barat pulau Jawa dengan berjalannya waktu telah tersebar ke berbagai penjuru dunia. Sebagai suatu suku, bangsa Sunda merupakan cikal bakal berdirinya peradaban di Nusantara, di mulai dengan berdirinya kerajaan tertua di Indonesia, yakni Kerajaan Salakanagara dan Tarumanegara sampai ke Galuh, Pakuan Pajajaran, dan Sumedang Larang. Kerajaan Sunda merupakan kerajaan yang cinta damai, selama pemerintahannya tidak melakukan ekspansi untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Keturunan Kerajaan Sunda telah melahirkan kerajaan- kerajaan besar di Nusantara diantaranya Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Majapahit, Kerajaan Mataram, Kerajaan Cirebon, Kerajaan Banten, dll.

Kronologi Sejarah Kerajaan Sunda

Kerajaan Sunda (669-1579 M), menurut naskah Wangsakerta merupakan kerajaan yang berdiri menggantikan kerajaan Tarumanagara. Kerajaan Sunda didirikan oleh Tarusbawa pada tahun 591 Caka Sunda (669 M). Menurut sumber sejarah primer yang berasal dari abad ke-16, kerajaan ini merupakan suatu kerajaan yang meliputi wilayah yang sekarang menjadi Provinsi Banten, Jakarta, Provinsi Jawa Barat , dan bagian barat Provinsi Jawa Tengah.

Berdasarkan naskah kuno primer Bujangga Manik (yang menceriterakan perjalanan Bujangga Manik, seorang pendeta Hindu Sunda yang mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di Pulau Jawa dan Bali pada awal abad ke-16), yang saat ini disimpan pada Perpustakaan Boedlian, Oxford University, Inggris sejak tahun 1627), batas Kerajaan Sunda di sebelah timur adalah Ci Pamali ("Sungai Pamali", sekarang disebut sebagai Kali Brebes) dan Ci Serayu (yang saat ini disebut Kali Serayu) di Provinsi Jawa Tengah.

Tome Pires (1513) dalam catatan perjalanannya, Suma Oriental (1513 – 1515), menyebutkan batas wilayah Kerajaan Sunda di sebelah timur sebagai berikut: “Sementara orang menegaskan bahwa kerajaan Sunda meliputi setengah pulau Jawa. Sebagian orang lainnya berkata bahwa Kerajaan Sunda mencakup sepertiga Pulau Jawa ditambah seperdelapannya lagi. Katanya, keliling Pulau Sunda tiga ratus legoa. Ujungnya adalah Ci Manuk.'

Menurut Naskah Wangsakerta, wilayah Kerajaan Sunda mencakup juga daerah yang saat ini menjadi Provinsi Lampung melalui pernikahan antara keluarga Kerajaan Sunda dan Lampung. Lampung dipisahkan dari bagian lain kerajaan Sunda oleh Selat Sunda.

Hubungan Kerajaan Sunda dengan Eropa

Kerajaan Sunda sudah lama menjalin hubungan dagang dengan bangsa Eropa seperti Inggris, Perancis dan Portugis. Kerajaan Sunda malah pernah menjalin hubungan politik dengan bangsa Portugis. Dalam tahun 1522, Kerajaan Sunda menandatangani Perjanjian Sunda-Portugis yang membolehkan orang Portugis membangun benteng dan gudang di pelabuhan Sunda Kelapa. Sebagai imbalannya, Portugis diharuskan memberi bantuan militer kepada Kerajaan Sunda dalam menghadapi serangan dari Demak dan Cirebon (yang memisahkan diri dari Kerajaan Sunda).

Sejarah
Sebelum berdiri sebagai kerajaan yang mandiri, Sunda merupakan bagian dari Tarumanagara. Raja Tarumanagara yang terakhir, Sri Maharaja Linggawarman Atmahariwangsa Panunggalan Tirthabumi (memerintah hanya selama tiga tahun, 666-669 M), menikah dengan Déwi Ganggasari dari Indraprahasta. Dari Ganggasari, beliau memiliki dua anak, yang keduanya perempuan. Déwi Manasih, putri sulungnya, menikah dengan Tarusbawa dari Sunda, sedangkan yang kedua, Sobakancana, menikah dengan Dapuntahyang Sri Janayasa, yang selanjutnya mendirikan kerajaan Sriwijaya. Setelah Linggawarman meninggal, kekuasaan Tarumanagara turun kepada menantunya, Tarusbawa. Hal ini menyebabkan penguasa Galuh, Wretikandayun (612-702) memberontak, melepaskan diri dari Tarumanagara, serta mendirikan Galuh yang mandiri. dari pihak Tarumanagara sendiri, Tarusbawa juga menginginkan melanjutkan kerajaan Tarumanagara. Tarusbawa selanjutnya memindahkan kekuasaannya ke Sunda, di hulu sungai Cipakancilan dimana di daerah tersebut sungai Ciliwung dan sungai Cisadane berdekatan dan berjajar. Kurang lebih adalah Kotamadya Bogor saat ini. Sedangkan Tarumanagara diubah menjadi bawahannya. Beliau dinobatkan sebagai raja Sunda pada hari Radite Pon, 9 Suklapaksa, bulan Yista, tahun 519 Saka (kira-kira 18 Mei 669 M). Sunda dan Galuh ini berbatasan, dengan batas kerajaanya yaitu sungai Citarum (Sunda di sebelah barat, Galuh di sebelah timur).

Kerajaan kembar
Putera Tarusbawa yang terbesar, Rarkyan Sundasambawa, wafat saat masih muda, meninggalkan seorang anak perempuan, Nay Sekarkancana. Cucu Tarusbawa ini lantas dinikahi oleh Rahyang Sanjaya dari Galuh, sampai mempunyai seorang putera, Rahyang Tamperan.

Ibu dari Sanjaya adalah SANAHA, cucu Ratu Shima dari Kalingga, di Jepara. Ayah dari Sanjaya adalah Bratasenawa / SENA / SANNA, Raja Galuh ketiga, teman dekat Tarusbawa.

Sena adalah cucu Wretikandayun dari putera bungsunya, Mandiminyak, raja Galuh kedua (702-709 M). Sena di tahun 716 M dikudeta dari tahta Galuh oleh PURBASORA. Purbasora dan Sena sebenarnya adalah saudara satu ibu, tapi lain ayah.

Sena dan keluarganya menyelamatkan diri ke Pakuan, pusat Kerajaan Sunda, dan meminta pertolongan pada Tarusbawa. Ironis sekali memang, Wretikandayun, kakek Sena, sebelumnya menuntut Tarusbawa untuk memisahkan Kerajaan Galuh dari Tarumanegara / Kerajaan Sunda. Dikemudian hari, Sanjaya yang merupakan penerus Kerajaan Galuh yang sah, menyerang Galuh, dengan bantuan Tarusbawa, untuk melengserkan Purbasora.

Saat Tarusbawa meninggal (tahun 723), kekuasaan Sunda dan Galuh berada di tangan Sanjaya. Di tangan Sanjaya, Sunda dan Galuh bersatu kembali.

Tahun 732 Sanjaya menyerahkan kekuasaan Sunda-Galuh ke puteranya, Tamperan / Rarkyan Panaraban. Di Kalingga, Sanjaya memegang kekuasaan selama 22 tahun (732-754), yang kemudian diganti oleh puteranya dari Déwi Sudiwara, yaitu Rarkyan Panangkaran / Rakai Panangkaran.

Rahyang Tamperan / RARKYAN PANARABAN berkuasa di Sunda-Galuh selama tujuh tahun (732-739), lalu membagi kekuasaan pada dua puteranya: Sang Manarah (dalam carita rakyat disebut Ciung Wanara) di Galuh serta Sang Banga (Hariang Banga) di Sunda.

Sang Banga (Prabhu Kertabhuwana Yasawiguna Hajimulya) menjadi raja selama 27 tahun (739-766), tapi hanya menguasai Sunda dari tahun 759. Dari Déwi Kancanasari, keturunan Demunawan dari Saunggalah, Sang Banga mempunyai putera, bernama Rarkyan Medang, yang kemudian meneruskan kekuasaanya di Sunda selama 17 tahun (766-783) dengan gelar Prabhu Hulukujang.

Karena anaknya perempuan, Rakryan Medang mewariskan kekuasaanya kepada menantunya, Rakryan Hujungkulon atau Prabhu Gilingwesi (dari Galuh, putera Sang Mansiri), yang menguasai Sunda selama 12 tahun (783-795).

Karena Rakryan Hujungkulon inipun hanya mempunyai anak perempuan, maka kekuasaan Sunda lantas jatuh ke menantunya, Rakryan Diwus (dengan gelar Prabu Pucukbhumi Dharmeswara) yang berkuasa selama 24 tahun (795-819).

Dari Rakryan Diwus, kekuasaan Sunda jatuh ke puteranya, Rakryan Wuwus, yang menikah dengan putera dari Sang Welengan (raja Galuh, 806-813). Kekuasaan Galuh juga jatuh kepadanya saat saudara iparnya, Sang Prabhu Linggabhumi (813-842), meninggal dunia. Kekuasaan Sunda-Galuh dipegang oleh RAKRYAN WUWUS (dengan gelar Prabhu Gajahkulon) sampai ia wafat tahun 891.

Sepeninggal Rakryan Wuwus, kekuasaan Sunda-Galuh jatuh ke adik iparnya dari Galuh, Arya Kadatwan. Hanya saja, karena tidak disukai oleh para pembesar dari Sunda, ia dibunuh tahun 895, sedangkan kekuasaannya diturunkan ke putranya, Rakryan Windusakti.

Kekuasaan ini lantas diturunkan pada putera sulungnya, Rakryan Kamuninggading (913). RAKRYAN KAMUNINGGADING menguasai Sunda-Galuh hanya tiga tahun, sebab kemudian direbut oleh adiknya, Rakryan Jayagiri (916).

RAKRYAN JAYAGIRI berkuasa selama 28 tahun, kemudian diwariskan kepada menantunya, Rakryan Watuagung, tahun 942.

Melanjutkan dendam orangtuanya, Rakryan Watuagung direbut kekuasaannya oleh keponakannya (putera Kamuninggading), Sang Limburkancana (954-964).

Dari Limburkancana, kekuasaan Sunda-Galuh diwariskan oleh putera sulungnya, Rakryan Sundasambawa (964-973). Karena tidak mempunyai putera dari Sundasambawa, kekuasaan tersebut jatuh ke adik iparnya, Rakryan Jayagiri (973-989).

Rakryan Jayagiri mewariskan kekuasaannya ka puteranya, Rakryan Gendang (989-1012), dilanjutkan oleh cucunya, Prabhu Déwasanghyang (1012-1019). Dari Déwasanghyang, kekuasaan diwariskan kepada puteranya, lalu ke cucunya yang membuat prasasti Cibadak, Sri Jayabhupati (1030-1042). Sri Jayabhupati adalah menantu dari Dharmawangsa Teguh dari Jawa Timur, mertua raja Erlangga (1019-1042).

Dari Sri Jayabhupati, kekuasaan diwariskan kepada putranya, Dharmaraja (1042-1064), lalu ke cucu menantunya, Prabhu Langlangbhumi ((1064-1154). Prabu Langlangbhumi dilanjutkan oleh putranya, Rakryan Jayagiri (1154-1156), lantas oleh cucunya, Prabhu Dharmakusuma (1156-1175). Dari Prabu Dharmakusuma, kekuasaan Sunda-Galuh diwariskan kepada putranya, Prabhu Guru Dharmasiksa, yang memerintah selama 122 tahun (1175-1297). Dharmasiksa memimpin Sunda-Galuh dari Saunggalah selama 12 tahun, tapi kemudian memindahkan pusat pemerintahan kepada Pakuan Pajajaran, kembali lagi ke tempat awal moyangnya (Tarusbawa) memimpin kerajaan Sunda.

Sepeninggal Dharmasiksa, kekuasaan Sunda-Galuh turun ke putranya yang terbesar, Rakryan Saunggalah (Prabhu Ragasuci), yang berkuasa selama enam tahun (1297-1303). Prabhu Ragasuci kemudian diganti oleh putranya, Prabhu Citraganda, yang berkuasa selama delapan tahun(1303-1311), kemudian oleh keturunannya lagi, Prabu Linggadéwata (1311-1333). Karena hanya mempunyai anak perempuan, Linggadéwata menurunkan kekuasaannya ke menantunya, Prabu Ajiguna Linggawisésa (1333-1340), kemudian ke Prabu Ragamulya Luhurprabawa (1340-1350). Dari Prabu Ragamulya, kekuasaan diwariskan ke putranya, Prabu Maharaja Linggabuanawisésa (1350-1357), yang di ujung kekuasaannya gugur di Bubat (baca Perang Bubat). Karena saat kejadian di Bubat, putranya -- Niskalawastukancana -- masih kecil, kekuasaan Sunda sementara dipegang oleh Patih Mangkubumi Sang Prabu Bunisora (1357-1371).

Prasasti Kawali di Kabuyutan Astana Gedé, Kawali, Ciamis.
Sapeninggal Prabu Bunisora, kekuasaan kembali lagi ke putra Linggabuana, Niskalawastukancana, yang kemudian memimpin selama 104 tahun (1371-1475). Dari isteri pertama, Nay Ratna Sarkati, ia mempunyai putera Sang Haliwungan (Prabu Susuktunggal), yang diberi kekuasaan bawahan di daerah sebelah barat Citarum (daerah asal Sunda). Prabu Susuktunggal yang berkuasa dari Pakuan Pajajaran, membangun pusat pemerintahan ini dengan mendirikan keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Pemerintahannya terbilang lama (1382-1482), sebab sudah dimulai saat ayahnya masih berkuasa di daerah timur.

Dari Nay Ratna Mayangsari, istrinya yang kedua, ia mempunyai putera Ningratkancana (Prabu Déwaniskala), yang meneruskan kekuasaan ayahnya di daerah Galuh (1475-1482).

Susuktunggal dan Ningratkancana menyatukan ahli warisnya dengan menikahkan Jayadéwata (putra Ningratkancana) dengan Ambetkasih (putra Susuktunggal). Tahun 1482, kekuasaan Sunda dan Galuh disatukan lagi oleh Jayadéwata (yang bergelar Sri Baduga Maharaja). Sapeninggal Jayadéwata, kekuasaan Sunda-Galuh turun ke putranya, Prabu Surawisésa (1521-1535), kemudian Prabu Déwatabuanawisésa (1535-1543), Prabu Sakti (1543-1551), Prabu Nilakéndra (1551-1567), serta Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana (1567-1579). Prabu Suryakancana ini merupakan pemimpin kerajaan Sunda-Galuh yang terakhir, sebab setelah beberapa kali diserang oleh pasukan Maulana Yusuf dari Kesultanan Banten, kerajaan Sunda lainnya, di tahun 1579, yang mengalibatkan kekuasaan Prabu Surya Kancana dan Kerajaan Pajajaran runtuh.

Sebelum Kerajaan Pajajaran runtuh Prabu Surya Kancana memerintahkan ke empat patihnya untuk membawa mahkota kerajaan beserta anggota kerajaan ke Sumedang Larang yang sama- sama merupakan keturunan Kerajaan Sunda untuk meneruskan pemerintahan.

Kerajaan Sumedang Larang berasal dari pecahan kerajaan Sunda-Galuh yang beragama Hindu, yang didirikan oleh Prabu Geusan Ulun Aji Putih atas perintah Prabu Suryadewata sebelum Keraton Galuh dipindahkan ke Pajajaran, Bogor. Seiring dengan perubahan zaman dan kepemimpinan, nama Sumedang mengalami beberapa perubahan. Yang pertama yaitu Kerajaan Tembong Agung yang berlokasi di Desa Cipaku Kecamatan Darmaraja (Tembong artinya nampak dan Agung artinya luhur, memperlihatkan ke Agungan Yang Maha Kuasa) dipimpin oleh Prabu Guru Aji Putih pada abad ke XII. Prabu Guru Aji Putih memiliki putra yang bernama Prabu Tajimalela dan kemudian pada masa zaman Prabu Tajimalela, diganti menjadi Himbar Buana, yang berarti menerangi alam, Prabu Tajimalela pernah berkata “Insun medal; Insun madangan”. Artinya Aku dilahirkan; Aku menerangi. Kata Sumedang diambil dari kata Insun Madangan yang berubah pengucapannya menjadi Sun Madang yang selanjutnya menjadi Sumedang. Ada juga yang berpendapat berasal dari kata Insun Medal yang berubah pengucapannya menjadi Sumedang dan Larang berarti sesuatu yang tidak ada tandingnya.



Pemerintahan berdaulat
Prabu Agung Resi Cakrabuana (950 M)Prabu Agung Resi Cakrabuana atau lebih dikenal Prabu Tajimalela dianggap sebagai pokok berdirinya Kerajaan Sumedang. Pada awal berdiri bernama Kerajaan Tembong Agung dengan ibukota di Leuwihideung (sekarang Kecamatan Darmaraja). Beliau punya tiga putra yaitu Prabu Lembu Agung, Prabu Gajah Agung, dan Sunan Geusan Ulun.

Berdasarkan Layang Darmaraja, Prabu Tajimalela memberi perintah kepada kedua putranya (Prabu Lembu Agung dan Prabu Gajah Agung), yang satu menjadi raja dan yang lain menjadi wakilnya (patih). Tapi keduanya tidak bersedia menjadi raja. Oleh karena itu, Prabu Tajimalela memberi ujian kepada kedua putranya jika kalah harus menjadi raja. Kedua putranya diperintahkan pergi ke Gunung Nurmala (sekarang Gunung Sangkanjaya). Keduanya diberi perintah harus menjaga sebilah pedang dan kelapa muda (duwegan/degan). Tetapi, Prabu Gajah Agung karena sangat kehausan beliau membelah dan meminum air kelapa muda tersebut sehingga beliau dinyatakan kalah dan harus menjadi raja Kerajaan Sumedang Larang tetapi wilayah ibu kota harus mencari sendiri. Sedangkan Prabu Lembu Agung tetap di Leuwihideung, menjadi raja sementara yang biasa disebut juga Prabu Lembu Peteng Aji untuk sekedar memenuhi wasiat Prabu Tajimalela. Setelah itu Kerajaan Sumedang Larang diserahkan kepada Prabu Gajah Agung dan Prabu Lembu Agung menjadi resi. Prabu Lembu Agung dan pera keturunannya tetap berada di Darmaraja. Sedangkan Sunan Geusan Ulun dan keturunannya tersebar di Limbangan, Karawang, dan Brebes.

Setelah Prabu Gajah Agung menjadi raja maka kerajaan dipindahkan ke Ciguling. Ia dimakamkan di Cicanting Kecamatan Darmaraja. Ia mempunyai dua orang putra, pertama Ratu Istri Rajamantri, menikah dengan Prabu Siliwangi dan mengikuti suaminya pindah ke Pakuan Pajajaran. Kedua Sunan Guling, yang melanjutkan menjadi raja di Kerajaan Sumedang Larang. Setelah Sunan Guling meninggal kemudian dilanjutkan oleh putra tunggalnya yaitu Sunan Tuakan. Setelah itu kerajaan dipimpin oleh putrinya yaitu Nyi Mas Ratu Patuakan. Nyi Mas Ratu Patuakan mempunyai suami yaitu Sunan Corenda, putra Sunan Parung, cucu Prabu Siliwangi (Prabu Ratu Dewata). Nyi Mas Ratu Patuakan mempunyai seorang putri bernama Nyi Mas Ratu Inten Dewata (1530-1578), yang setelah ia meninggal menggantikannya menjadi ratu dengan gelar Ratu Pucuk Umun.

Ratu Pucuk Umun menikah dengan Pangeran Kusumahdinata, putra Pangeran Pamalekaran (Dipati Teterung), putra Aria Damar Sultan Palembang keturunan Majapahit. Ibunya Ratu Martasari/Nyi Mas Ranggawulung, keturunan Sunan Gunung Jati dari Cirebon. Pangeran Kusumahdinata lebih dikenal dengan julukan Pangeran Santri karena asalnya yang dari pesantren dan perilakunya yang sangat alim. Dengan pernikahan tersebut berakhirlah masa kerajaan Hindu di Sumedang Larang. Sejak itulah mulai menyebarnya agama Islam di wilayah Sumedang Larang.

Ratu Pucuk Umun dan Pangeran Santri
Pada pertengahan abad ke-16, mulailah corak agama Islam mewarnai perkembangan Sumedang Larang. Ratu Pucuk Umun, seorang wanita keturunan raja-raja Sumedang kuno yang merupakan seorang Sunda muslimah; menikahi Pangeran Santri (1505-1579 M) yang bergelar Ki Gedeng Sumedang dan memerintah Sumedang Larang bersama-sama serta menyebarkan ajaran Islam di wilayah tersebut. Pangeran Santri adalah cucu dari Syekh Maulana Abdurahman (Sunan Panjunan) dan cicit dari Syekh Datuk Kahfi, seorang ulama keturunan Arab Hadramaut yang berasal dari Mekkah dan menyebarkan agama Islam di berbagai penjuru daerah di kerajaan Sunda. Pernikahan Pangeran Santri dan Ratu Pucuk Umun ini melahirkan Prabu Geusan Ulun atau dikenal dengan Prabu Angkawijaya. Pada masa Ratu Pucuk Umun, ibukota Kerajaan Sumedang Larang dipindahkan dari Ciguling ke Kutamaya.

Prabu Geusan Ulun
Prabu Geusan Ulun (1580-1608 M) dinobatkan untuk menggantikan kekuasaan ayahnya, Pangeran Santri. Beliau menetapkan Kutamaya sebagai ibukota kerajaan Sumedang Larang, yang letaknya di bagian Barat kota. Wilayah kekuasaannya meliputi Kuningan, Bandung, Garut, Tasik, Sukabumi (Priangan) kecuali Galuh (Ciamis). Kerajaan Sumedang pada masa Prabu Geusan Ulun mengalami kemajuan yang pesat di bidang sosial, budaya, agama, militer dan politik pemerintahan. Setelah wafat pada tahun 1608, putera angkatnya, Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata atau Rangga Gempol I, yang dikenal dengan nama Raden Aria Suradiwangsa menggantikan kepemimpinannya.

Pada masa awal pemerintahan Prabu Geusan Ulun, Kerajaan Pajajaran Galuh Pakuan sedang dalam masa kehancurannya karena diserang oleh Kerajaan Banten yang dipimpin Sultan Maulana Yusuf dalam rangka menyebarkan Agama Islam. Oleh karena penyerangan itu Kerajaan Pajajaran hancur. Pada saat-saat kekalahan Kerajaan Pajajaran, Prabu Siliwangi sebelum meninggalkan Keraton beliau mengutus empat prajurit pilihan tangan kanan Prabu Siliwangi untuk pergi ke Kerajaan Sumedang dengan rakyat Pajajaran untuk mencari perlindungan yang disebut Kandaga Lante. Kandaga Lante tersebut menyerahkan mahkota emas simbol kekuasaan Raja Pajajaran, kalung bersusun dua dan tiga, serta perhiasan lainnya seperti benten, siger, tampekan, dan kilat bahu (pusaka tersebut masih tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun si Sumedang). Kandaga Lante yang menyerahkan tersebut empat orang yaitu Sanghyang Hawu atau Embah Jayaperkosa, Batara Dipati Wiradijaya atau Embah Nangganan, Sanghyang Kondanghapa, dan Batara Pancar Buana atau Embah Terong Peot.

Walaupun pada waktu itu tempat penobatan raja direbut oleh pasukan Banten (wadyabala Banten) tetapi mahkota kerajaan terselamatkan. Dengan diberikannya mahkota tersebut kepada Prabu Geusan Ulun, maka dapat dianggap bahwa Kerajaan Pajajaran Galuh Pakuan menjadi bagian Kerajaan Sumedang Larang, sehingga wilayah Kerajaan Sumedang Larang menjadi luas. Batas wilayah baratnya Sungai Cisadane, batas wilayah timurnya Sungai Cipamali (kecuali Cirebon dan Jayakarta), batas sebelah utaranya Laut Jawa, dan batas sebelah selatannya Samudera Hindia.

Secara politik Kerajaan Sumedang Larang didesak oleh tiga musuh: yaitu Kerajaan Banten yang merasa terhina dan tidak menerima dengan pengangkatan Prabu Geusan Ulun sebagai pengganti Prabu Siliwangi; pasukan VOC di Jayakarta yang selalu mengganggu rakyat; dan Kesultanan Cirebon yang ditakutkan bergabung dengan Kesultanan Banten. Pada masa itu Kesultanan Mataram sedang pada masa kejayaannya, banyak kerajaan-kerajaan kecil di Nusantara yang menyatakan bergabung kepada Mataram. Dengan tujuan politik pula akhirnya Prabu Geusan Ulun menyatakan bergabung dengan Kesultanan Mataram. Prabu Geusan Ulun merupakan raja terakhir Kerajaan Sumedang Larang, karena selanjutnya menjadi bagian Mataram dan pangkat raja turun menjadi adipati (bupati).

Raja-raja Kerajaan Sunda dari Salaka Nagara s/d Sumedang Larang
Di bawah ini deretan raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan Sunda menurut naskah Pangéran Wangsakerta (waktu berkuasa dalam tahun Masehi):

Periode Salaka Nagara dan Taruma Nagara (Dewawarman - Linggawarman, 150 - 669).

0. Dewawarman I - VIII, 150 - 362

1. Jayasingawarman, 358-382

2. Dharmayawarman, 382-395

3. Purnawarman, 395-434

4. Wisnuwarman, 434-455

5. Indrawarman, 455-515

6. Candrawarman, 515-535

7. Suryawarman, 535-561

8. Kertawarman, 561-628

9. Sudhawarman, 628-639

10. Hariwangsawarman, 639-640

11. Nagajayawarman, 640-666

12. Linggawarman, 666-669



Periode Kerajaan Galuh - Pakuan - Pajajaran - Sumedang Larang

1. Tarusbawa (menantu Linggawarman, 669 - 723)

2. Harisdarma, atawa Sanjaya (menantu Tarusbawa, 723 - 732)

3. Tamperan Barmawijaya (732 - 739)

4. Rakeyan Banga (739 - 766)

5. Rakeyan Medang Prabu Hulukujang (766 - 783)

6. Prabu Gilingwesi (menantu Rakeyan Medang Prabu Hulukujang, 783 - 795)

7. Pucukbumi Darmeswara (menantu Prabu Gilingwesi, 795 - 819)

8. Rakeyan Wuwus Prabu Gajah Kulon (819 - 891)

9. Prabu Darmaraksa (adik ipar Rakeyan Wuwus, 891 - 895)

10. Windusakti Prabu Déwageng (895 - 913)

11. Rakeyan Kamuning Gading Prabu Pucukwesi (913 - 916)

12. Rakeyan Jayagiri (menantu Rakeyan Kamuning Gading, 916 - 942)

13. Atmayadarma Hariwangsa (942 - 954)

14. Limbur Kancana (putera Rakeyan Kamuning Gading, 954 - 964)

15. Munding Ganawirya (964 - 973)

16. Rakeyan Wulung Gadung (973 - 989)

17. Brajawisésa (989 - 1012)

18. Déwa Sanghyang (1012 - 1019)

19. Sanghyang Ageng (1019 - 1030)

20. Sri Jayabupati (Detya Maharaja, 1030 - 1042)

21. Darmaraja (Sang Mokténg Winduraja, 1042 - 1065)

22. Langlangbumi (Sang Mokténg Kerta, 1065 - 1155)

23. Rakeyan Jayagiri Prabu Ménakluhur (1155 - 1157)

24. Darmakusuma (Sang Mokténg Winduraja, 1157 - 1175)

25. Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu (1175 - 1297)

26. Ragasuci (Sang Mokténg Taman, 1297 - 1303)

27. Citraganda (Sang Mokténg Tanjung, 1303 - 1311)

28. Prabu Linggadéwata (1311-1333)

29. Prabu Ajiguna Linggawisésa (1333-1340)

30. Prabu Ragamulya Luhurprabawa (1340-1350)

31. Prabu Maharaja Linggabuanawisésa (yang gugur dalam Perang Bubat, 1350-1357)

32. Prabu Bunisora (1357-1371)

33. Prabu Niskalawastukancana (1371-1475)

34. Prabu Susuktunggal (1475-1482)

35. Prabu Jayadéwata (Sri Baduga Maharaja, 1482-1521)

36. Prabu Surawisésa (1521-1535)

37. Prabu Déwatabuanawisésa (1535-1543)

38. Prabu Sakti (1543-1551)

39. Prabu Nilakéndra (1551-1567)

40. Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana (1567-1579)

41. Prabu Geusan Ulun (1580-1608 M)


Sumber:

- Herwig Zahorka, The Sunda Kingdoms of West Java, From Taruma Nagara to Pakuan Pajajaran with Royal Center of Bogor, tahun 2007.

- Saleh Danasasmita, Sajarah Bogor, Tahun 2000

- Ayatrohaedi: Sundakala, Cuplikan Sejarah Sunda Berdasar Naskah-naskah "Panitia Wangsakerta" Cirebon. Pustaka Jaya, 2005.

- Aca. 1968. Carita Parahiyangan: naskah titilar karuhun urang Sunda abad ka-16 Maséhi. Yayasan Kabudayaan Nusalarang, Bandung.

- Edi S. Ekajati. 2005. Polemik Naskah Pangeran Wangsakerta. Pustaka Jaya, Jakarta. ISBN 979-419-329-1

- Yoséph Iskandar. 1997. Sejarah Jawa Barat: yuganing rajakawasa. Geger Sunten,

Gagak Jadi Hideung

Kacariotakeun baheula dina hiji tempat aya oray naga keur nawu balong. Sungutna ngegel kana tangkal huni, buntutna dibrlitkeun kana pancuh tambakan beulah dieu. Awakna malang dina balong tea, tuluy di ayun keun goplak, goplak, goplak dipake nawu baloing tea.
Teu kungsi lila balong teh saat laukna sing kocopok loba. Jol datang gagak kadinya haritamah gagak teh buluna bodas ngeplak. Ujug-ujug corokcok weh laukna dipacokan nepi beak lauk nu baradagnamah.
Ku oray sanca katempoen gagak maling lauk, geuwat digenggereuhkeun, tapi gagak ngalah beuki ngahajakeun. Atuh oray ambek sebrut bae diudag gagakteh. Gagak teh hiber kuorang diobrot, gagak teh bingung da diberik wae sieunen katewak. Kabeneran aya nu keur neleum, gebrus bae gagak teh asup ka jero pijanaan. Atuh ari muncul deui teh geus lestreng .
Barang jol oray sanca teh panglingeun, da jadi hideung lestereng. Pok weh oray sanca nanya, “mahlik hideung maneh nempo sakadang gagak teu bieu liwat kadieu?”
Gagak teh sorana digedekeun, ngomongna oge basa Betawi, da sieunen katara, “Engga, gaaaa!”
Tah kitu sasakalana manuk gagak buluna hideung jeung sorana gaaa, gaaaak!
Rincian Dongeng:
- Judulna : Gagak Jadi Hideung
- Bahasana : Kasar
- Palakuna : Gagak jeung Oray Sanca
- Watek palakuna :
Gagak = Badeur, sok daek nyopet, te bisa digenggereuhkeun.
Oray Sanca = Getol, daek usaha, rajin.
- Tempat/latar : Caritana jaman baheula di hiji balong nu loba laukan
- Eusi/hikmah nu bisa di cokot :
Ari jadi jalma teh kudu getol daekan, ulet, usaha lamun hayang bog amah kos sakadang Oray Sanca. Ulah jiga Gagak baong, haying ngenah doing embung gawe.


Hayam Kongkorongok Subuh

Kacaritakeun jaman baheula aya oray naga geus lila ngalamun hayang nyaba ka kahiyangan. Unggal isuk eta oray teh osok dangdan mapantes maneh. Tapi keukeuh teu ngarasa ginding lantaran teu boga perhiasan, mangkaning arek ngadeheus ka dewa.

Sanggeus mikir manehna inget ka sobatna sakadang titinggi, maksudna arek nginjeum tanduk ka sakadang jago haritamah jago teh aya tandukan menta di anteur ka titinggi. Sanggeus aprok dicaritakeun sakabeh pamasalahan naga ka jago. Maksudnamah nginjeum tanduk ka jago, engke dianteurkeuna deui ku sakadang titinggi cak sakadang naga.


Hayam jago teu nembalan lantaran apal jahat jeung licikna naga. Lila-lila naga ngarayu, jago oge merekeun tandukna ka sakadang naga. Cak naga ka jago “engke tandukna dibalikeun deui dianteurkeun ku titinggi samemeh balebat, lamun balebat can balik wae bisi kaula poho ngawangkong jeung dewa, anjeun mere tanda weh kongkorongok sing tarik.”


Geus kitumah jung weh naga jenug titinggi the arindit. Isukna samemeh balebat hayam jago kongkorongok satakerna. Sakali dua kali titinggi teu datang wae, terus jago teh kongkorongok sababaraha kali deui, tapi tetep titinggi teu dating keneh bae. Nepi ka brayna berang titinggi teu datang-datang.


“Keun sugan cenah peuting engke” pok hayam teh. Tapi weleh ditunggu nepi kasubuh titinggi teu dating keneh wae. Pohara ambekna hayam jago nepi ka nyancam lamun titinggi dating arek di pacok nepikeun ka paehna.


Ti harita hayam jago teh tiap-tiap subuh kongkorongok sarta mun papanggih jeung titinggi sok langsung dipacok nepi ka paehna, males pati dumeh kungsi ngabobodo.
Rincian Dongeng:
- Judulna : Hayam Kongkorongok Subuh
- Bahasana : Kasar
- Palakuna : Hayam Jago, Titinggi jeung Oray Naga
- Watek palakuna :
Oray Naga = jahat, sok nipu, teu sukur, sok hayang nu batur.
Titinggi = Daek wae di titah sanajan salah, teboga pamadegan.
Hayam Jago = Babari percaya, gampang dibobodo.
- Tempat/latar : Hiji tempat jaman bahela nyaeta di leuweung
- Eusi/hikmah nu bisa di cokot :
Ari hirup teh ulah sombong, adigung, ulah sok nipu, jiga Oray Naga. Ulah sok daek wae di titah lamun salah jiga Titinggi. Ulah gampang di bobodo bisi kaduhung, ulah gampang percaya ka jalma jiga sakadang Hayam Jago.

Sakadang Kuya jeung Sakadang Monyet

Hiji poe isuk-isuk, Sakadang Monyét datang nyampeurkeun ka Sakadang Kuya.
“Sakadang Kuya!”
“Kuk!”
“Keur naon?”
“Ah, biasa wé keur moyan,” témbal Sakadang Kuya anu keur cinutrung dina batu. “Ari tadi peuting saré di mana Sakadang Monyét téh?” Sakadang Kuya malik nanya.
“Di ditu, di deukeut kebon Pa Tani.”
“Baruk? Naha Ujang teu sieun ku Pa Tani?”
“Ah, henteu, da Pa Tanina ogé areuweuh. Imahna gé katénjona karosong. Jigana mah keur arindit jauh.”
“Kadé ah, sing ati-ati mun papanggih Pa Tani. Pa Tani téh manusa. Manusa téa hararak jeung sagala beuki deuih!”
“Sing percaya wé atuh ka uing!”
Jempé sajongjongan. Pok Sakadang Monyét nyarita deui.
“Lain, Sakadang Kuya, uing téh kabita ku Pa Tani.”
“Kabita kumaha?”
“Kabita ku cara hirupna, meni asa garenah. Geura baé, mun hayang barangdahar, teu kudu kukurilingan heula néangan dahareun cara urang. Béas kari nutu. Atuh deungeunna kari ngala di kebon. Geus puguh sabangsa lalab mah. Asal daék ngalana. Kabéh aya di kebonna.”
“Atuh kudu daék ngebon Jang, mun hayang kitu mah.”
“Enya, kumaha lamun ayeuna urang ngebon nurutan Pa Tani? Meureun mun hayang baranghakan téh teu kudu kukurilingan heula cara ayeuna. Kari ngala wé di kebon.”
“Alus tah, Jang, pikiran téh. Ngan melak naon nya anu pantes keur urang?”
“Ku lantaran uing mah karesep téh cau, kumaha upama melak tangkal cau?”
“Hih, da uing ogé resep kana cau mah!”
Duanana sapogodos rék melak cau.
“Tapi di mana melakna?” Sakadang Monyét nanya.
“Ah, di dinya wé tah, di hilir, di sisi leuwi. Di dinya aya tanah kosong, meujeuhna mun ku urang dikebonan téh. Tanahna ogé alus di dinya,” témbal Sakadang Kuya.
“Naha lain di girang wé atuh, deukeut ka basisir?”
“Di dinya mah tanahna kurang hadé, geus campur jeung keusik.”
Sapuk baé rék ngebon cau di tanah kosong sisi leuwi.
Ari binihna rék ngala di kebon Pa Tani. Kabeneran Pa Tanina keur euweuh. Malah dina ayana ogé, moal ambek sugan ari dipénta binih cau mah. Asal ulah diala cauna wé, komo anu geus asak dina tangkal mah.
Bring atuh Sakadang Kuya jeung Sakadang Monyét indit ka kebon Pa Tani.
“Ari Sakadang Kuya rék melak naonana?” Jang Onyé nanya.
“Uing mah rék melak anakna wé.”
“Har, atuh lila kana buahanana ari melak anakna mah.”
“Éh, da kitu biasana, ari melak cau mah kudu anakna.”
“Ah, teu kitu! Uing mah rék melak jantungna wé,” ceuk Sakadang Monyét.
“Naha?”
“Ari Sakadang Kuya, bodo téh dibéakkeun ku sorangan. Yeuh, ari cau téh asalna tina jantung. Anu matak uing mah arék melak jantungna, ambéh téréh kaala buahna,” ceuk Sakadang Monyét bari semu ngécé ka Sakadang Kuya.
“Ah, uing mah rék nurutkeun tali paranti wé, melak anakna, anak cau.”
“Heug atuh, Sakadang Kuya melak anakna, uing melak jantungna. Ayeuna mah urang paheula-heula buahan! Pasti pelak uing anu pangheulana buahan mah!” ceuk Sakadang Monyét, yakin pisan.
Caritana éta dua sobat téh geus marelak cau di tanah nu di sisi leuwi téa. Sakadang Kuya melak anakna, anak cau, ari Sakadang Monyét melak jantungna.
Saminggu ti harita, pelak cau téh ditaréang.
“Sakadang Kuya, pelak cau téh geus kumaha?” Sakadang Monyét nanya.
“Karak lilir nu uing mah. Ari nu Sakadang Monyét geus kumaha?”
“Geus beukah, sakeudeung deui ogé geura, bijil buahna,” ceuk Sakadang Monyét, bungah naker.
Saminggu deui ti harita, maranéhna naréang deui pelak cauna.
“Sakadang Kuya, pelak cau téh ayeuna geus kumaha?” ceuk Sakadang Monyét.
“Anu uing mah geus bijil pucuk. Ari nu Sakadang Monyét kumaha?”
“Pelak uing mah atung-atung énéh aé,” témbal Sakadang Monyét ngabéléhém. Maksudna mah jantung-jantung kénéh baé.
Selang saminggu, pelak cau téh ditaréang deui.
“Ayeuna geus kumaha pelak cau téh,” Sakadang Monyét nanya.
“Tuh, geus bijil pucuk tilu. Ari nu Sakadang Monyét?”
“Atung-atung énéh aé.”
Beuki lila, pelak cau Sakadang Kuya beuki ngagedéan, malah morontod jadina ogé, kawantu tanahna subur. Ari pelak jantung Sakadang Monyét mah, tibatan jadi kalah ka buruk. Nampuyak digembrong laleur.
“Ning alah uyuk sia mah!” ceuk Sakadang Monyét bari nalapung pelak jantungna. Sakadang Kuya ukur mésem nénjo kalakuan Sakadang Monyét kitu téh. Na jero haténa mah nyeungseurikeun, bari ngagerentes, “Dasar kokolot begog! Henteu umum atuh melak cau jantungna mah!”
Ahirna di dinya téh ngan aya pelak cau anu Sakadang Kuya. Geus kitu mah diarantep wé, teu ditéang-téang deui. Engké cenah lamun kira-kira buahna geus arasak, rék ditéang deui bari sakalian diala.

Laratan Sajarah Bandung

Dicutat tina R. Memed Sastrahadiprawira

"Ngan anu puguh cukcrukanana, nya eta ti wates nu ngawengku Tanah Ukur, nu ngasta padataran Bandung kabeh-dieunakeun, jenengan Dipati Ukur Wangsanata, menak asal Purbalingga” (Roman Sajarah "Pangeran Kornel", Balai Pustaka, Citakan kahiji tahun 1930).

Jenengan Dipati Ukur teh pikeun sajarah Bandung mah beunang disebut
mumundelna, sabab nya dijaman harita urang Sunda, babakuna nu nyicingan
padataran Bandung, obyag sasadiaan baris nedungan papancen Sultan Agung
Mataram ngepung kota Batawi, ngarurug Kapitan Mur Jangkung.
Pangaruh Sultan Mataram karasana ku pangeusi tanah Priangan, lir upama angin topan nebak tatangkalan, taya nun bisa ngahalangan, sakur nu kadupak rebah, kitu deui nu ngawengku Tanah Ukur, kitu katelahna padataran Bandung jaman harita, teu iasa mangga pulia, kapaksa tumungkul ka kersana Sultan Mataram, saperti tangkal awai katebak ku angin gede.
Dina bubulak nu upluk-aplak ngaleut-ngeungkeuy balad Sunda rek miceun pati ka Batawi. Rancung tumbakna, nyalulagrang gobangna, wantuning ari bedil mah alam harita arang langka keneh. Opat rebu reana Balad Dipati Ukur anu ninggalkeun lemburna ngarurug ka Batawi, ngan opat ratus nu bisa mulang deui !

Ti harita Dipati Ukur nyicikeun cai, ngawurkeun lebu, sumpah moal kersa
ngawula deui ka Mataram. Tapi Dipati Ukur heunteu iasa lila wangkelangna, sabab kaburu sumping Tumenggung Narapaksa, senapati Sultan Mataram, nyandak balad mangpirang-pirang baris meruhkeun luluhur Ukur. Dipati Ukur bingung, ku musuh enggeus kakepung, cek babasan tea mah : maju jurang, mundur jungkrang.

Tuluy mundur jeung sababaladna, ngadago musuh di Gunung Lumbung. Tapi kalah wowotan, sanajan balad Mataram loba nu maraot
ditinggangan ku batu ti luhur gunung oge, teu burung Dipati Ukur abandang,
dikerid-peuti jeung ulukuringna, diboyong ka Mataram, baris narima hukuman
nu kacida ngerikna.

Padataran Bandung jadi suwung, Tanah ukur leungit kama'muranana, sabab geus taya nu nyicingan. Pasawahan jadi gamblung, huma-huma jadi leuweung.
Mangtaun-taun Bandung kosong lawas pisan jamanna Tanah Ukur teu katincak ku
jelema.

Tapi dasar Bandung kudu ninggang cacandran: heurin ku tangtung, jol sumping Umbul Cihaurbeuti nu geus milu nempuh Dipati Ukur, nyandak rencang dua ratus kuren, mudun ka palebah muhara Cikapundung, lantaran ku Sultan Mataramdijenengkeun bupati di Bandung, ganjaran kana kasatiaanana.

Tanah nu geus suwung teh dieusi deui sarta di sakuloneun muhara eta ngadeg dayeuh, katelahna Karapyak sarta sanggeus pindah ka tempat nu ayeuna
disebutna : Dayeuhkolot. Lain lebah dinya wae, tapi di wewengkon Tanah Ukur
beulah wetan oge, pernahna kuloneun walungan Citarik, dibawahan distrik
Cicalengka, desa Tarikolot-kaler, aya dayeuh nu sajaman diadegkeunana sarta
teu eleh karesikanana ku nu disebut ti heula, wantuning eta oge sarua pada
palinggihan bupati, nya eta dayeuhna kabupaten Parakanmuncang. Bupati eta
nagara nu mimiti kakasihna Tumenggung Wiratanubaya, asal umbul
Sindangkasih, nu jenengan Ngabehi Somahita. Kulantaran eta umbul milu
nalukkeun Dipati Ukur, ku Sultan Mataram diganjar, dijenengkeun bupati di
Parakanmuncang sarta tedak-tumedak ka putra-putuna meunang sababaraha
turunan.

Sastawan Sunda
R. MEMED SATRAHADIPRAWIRA
Dibabarkeun 18 Maret 1897 di Manonjaya, Tasikmalaya
Wafat dina kaping 5 Juli 1932 di Bandung

Tips membeli Domain dan menyewa Hosting

Dalam memilih Doman serta Hosting saya juga terlebih dahulu mencari informasi dari banyak Website para senior yang telah berpengalaman dalam banyak hal. Baiklah, saya akan langsung pada pembahasan singkat yang pertama yaitu tentang:

DOMAIN

Domain adalah nama atau alamat untuk sebuah Website di internet. Sudah pasti ketika akan membuka sebuah website kita terlebih dahulu menggetikkan Nama atau Alamat sebuah Website, agar mudah dalam mengingat serta dalam proses pengetikan alamat sebuah Website yang sebelumnya berupa deretan angka atau IP Address seperti 154.254.276.289., maka dibuatlah Domain atau juga familiar di sebut Nama Domain yang berperan untuk menggantikan IP Address tersebu.

Setiap Domain akan di lengkapi dengan ektensi ( Extension ) atau dikenal dengan istilah Top Level Domain (TLD) misalnya: .com, .net, .org, .biz, dan lain-lain. Untuk yang mewakili sebuah negara misanya Indonesia seperti .co.id, .net.id, di sebut country Top level Domain (cTLD).

Sebelum memilih dan membeli Nama Domain, ada beberapa hal yang sebaik nya kita perhatikan seperti:
  • Nama Domain yang singkat serta mudah diingat, namun untuk sekarang kita sudah susah untuk mendapatkan Domain yang singkat karena sudah hampir semua di gunakan.
  • Usahakan Nama Domain bisa mewakili isi website tersebut secara umum.
  • Apabila memilih Nama Domain yang cukup panjang, cari kata-kata yang umum untuk mencegah terjadinya kesalahan dalam penulisan.
  • Mudah-mudahan anda beruntung masih dapat menggunakan Ektensi .com pada Nama Domain yang jadi pilihan.
  • Menggunakan tanda atau karakter min ( ) , untuk merubah sebuah Nama Domain agar masih bisa anda gunakan. Misalnya anda ingin Domain blogku.com, karena telah di gunakan anda bisa menggunakan tanda ( ) hingga menjadi blog-ku.com.

HOSTING

Selanjutnya saya akan berbagi pengalaman ketika akan memilih sebuah Perusahaan yang menyediakan layanan tersebut, tentunya berharap bisa menemukan Hosting Murah di Indonesia. Ada beberapa detail atau informasi tentang perusahaan tersebut yang bisa kita telusuri memakai acuan dan penilaian seperti dari:
  1. Google PR Website Perusahaan yang menyediakan Layanan Hosting tersebut, tentu anda sudah tahu kita bisa memeriksanya di www.prchecker.info Semakin tinggi PR Website tersebut setidaknya kita tahu bahwa Website tersebut memang bagus dan dikelola dengan baik.
  2. Peringkat Website tersebut di Alexa Rank di www.alexa.com , semakin kecil angkanya berarti semakin tinggi peringkat Website tersebut. Dan itu menandakan bahwa Website tersebut ramai pengunjungnya.
  3. Dan yang terakhir untuk melengkapi keraguan anda, periksa Website perusahaan yang memberi layanan Hosting tersebut di whois.domaintools.com Anda akan bisa melihat detail seperti: telah berapa lama hosting tersebut beroperasi, jumlah domain serta yang telah menjadi pelanggan dan masih banyak lagi informasi yang bisa anda ketahui tentang Website tersebut.
  4. PENTING.. Anda harus hati-hati dan lebih teliti dengan promosi harga yang gila-gilaan (sangat murah) dengan paket yang ditawarkan sebuah perusahaan Hosting. Bisa saja suatu saat website anda susah diakses karena pelayanan tidak sesuai dengan janji pada saat menawarkan promosi atau tiba-tiba website anda tidak bisa diakses karena perusahaan tersebut sudah hilang begitu saja (tutup).
Setelah anda berhasil menentukan pilihan dimana akan menyewa Hosting, mungkin anda masih perlu memperhatikan beberapa poin lagi sebelum melakukan transaksi dengan Hosting tersebut seperti:
  • Yang pertama tentunya kebutuhan atau jenis Website yang akan anda buat agar mudah dalam memilih paket yang ditawarkan oleh Penyedia Layanan.
  • Besararan Disk Space yang di tawarkan untuk tiap-tiap paket, yang nantinya akan menjadi media atau tempat penyimpanan data file-file dari Website.
  • Perhatikan juga Ukuran atau batasan Bandwitdh yang akan disesuaikan dengan jenis paket, Bandwitdh yaitu total file yang di download sewaktu orang berkunjung serta membuka file-file yang ada pada Website. Dan akan di Reset atau dihitung per-bulan.
  • Apabila membeli Domain dan menyewa Hosting anda bisa melakukannya pada tempat yang berbeda, maka kita harus melakukan setting DNS (Domain Name Server) pada account domain untuk mengkoneksikan domain dengan hosting.
Ini adalah Website saya yang ke 2 , paket yang saya ambil sebelumnya adalah Satu Paket Hosting bisa untuk beberapa buah Domain + Add-on Domain atau biasa juga di sebut Domain Allowed, anda hanya akan membeli atau membayar harga untuk Domain saja tanpa perlu menyewa hosting baru. Berapa banyak Domain bisa ditambah tentunya akan menyesuaikan dengan besaran Disk Space yang tersedia.

Bila anda ingin melihat perusahaan Hosting yang saya gunakan di haurababyshop.com sebagai bahan perbandingan dengan hosting-hosting lain yang pernah anda lihat sebelumnya silahkan akses melalui Referral Link saya ini www.indowebsite.net tentunya ada sedikit komisi untuk saya apabila anda menjadi klien dari perusahaan 

Fr: balaraja.com

Tentang Penyedia Hosting Terbaik

Ini hanya kilasan tentang Hosting dan Domain terbaik di Indonesia, ada beberapa literatur dan info sana sini. Saya pribadi juga Pengguna Hosting yang ada di Indonesia dan sebagai pengguna awam yang mencoba untuk belajar lebih banyak tentang Hosting dan domain.

Seperti kita tahu, Penyedia Hosting di Indonesia makin Menjamur alias banyak, terkadang kita bingung milih yang bagus untuk kita sendiri. Sebelum kita menggunakan atau memilih Hosting ada baik nya juga kita tau Tips and Trik nya atau cari informasi tentang Hosting baik secara teknis juga dari pelayanan nya agar pada saat ada permasalahan tidak berlarut-larut dan bingung harus gimana.

Melihat data dari webhosting.info ada 10 Web Penyedia Hosting Terbaik dengan alasan karena Hosting Terbaik Indonesia tersebut di Urut berdasarkan Market Share (Pangsa Pasar) serta Jumlah Domain yang terdaftar (Registered) di perusahaan tersebut. Sedangkan alexa rank dan google PR hanyalah sekedar tambahan, untuk melengkapi informasi data yang lain bisa anda cek di Whois.domaintool.com

Masterwebnet.com masih kokoh pada posisi No.1. Namun ada sedikit kabar menggembirakan buat saya pribadi karena web hosting yang digunakan oleh saya yaitu Indowebsite.net terus menunujukkan Grafik yang baik, dan pada update kali ini bergeser (naik posisi) 1 peringkat yaitu no. 7 yang sebelumnya berada pada urutan 8. Berarti Indowebsite.net semakin mendapatkan kepercayaan dari para klien serta bertambahnya jumlah domain dan klien yang menggunakan Indowebsite.net.


10 Penyedia Hosting Terbaik di Indonesia


Rank  Hosting Company Market Share Total Domains
1 MASTERWEBNET.COM 20.0273 % 52,050
2 MASTERWEB.NET 18.7672 % 48,775
3 IDWEBHOST.COM 16.3147 % 42,401
4 RUMAHWEB.COM 10.0641 % 26,156
5 ARDHOSTING.COM 4.5022 % 11,701
6 JAGOANHOSTING.COM 3.6015 % 9,360
7 INDOWEBSITE.NET 2.927 % 7,607
8 QWORDS.COM 2.7396 % 7,120
9 DRACOOLA.NET 2.5168 % 6,541
10 JAKHOSTER.COM 2.0274 % 5,269

Semoga kita bisa lebih berhati-hati dan teliti dalam memilih Jasa Hosting untuk Blog ataupun Bisnis Online kita.

Bobodoran

Bobodoran Sunda